Cara Mengembangkan Kecerdasan Emosional Ditengah Kemajuan Teknologi
Kita niscaya pernah mendengar istilah Emotional quotient atau kecerdasan
emosional yang mampu disebut EQ, selain kecerdasan intelligence. Lalu apa arti
Emosional sendiri?
Pada postingan ini saya akan membahas wacana kecerdasan
emosional, aspek-faktor yang menghipnotis kecerdasan emosional, dan imbas
teknologi pada pengembangan kecerdasan emosional.
Menurut Goleman (2002: 512), kecerdasan emosional yakni kemampuan seseorang dengan kehidupan kecerdasan emosionalnya (untuk menertibkan kehidupan emosional kita dengan kecerdasan); mempertahankan keharmonisan dan packing emosional (adaptasi dan verbal emosional) lewat berguru mampu berdiri diatas kaki sendiri, membesarkan diri, memotivasi diri, tenggang rasa dan kemampuan sosial. Dalam penelitian ini, makna kecerdasan emosional yakni kemampuan siswa untuk menghilangkan emosi diri, memotivasi diri, emosi timbal balik orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina korelasi dengan orang lain. (ref: from www.sarjana.com)
Jadi seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan
emosional yang tinggi ini akan lebih mampu memegang kendali, dan mengendalikan
emosi dari segala sesuatu yang mau terjadi, bahagia berinteraksi, saling memperhatikan,
dan mereka akan lebih waspada dalam kata-kata dan tidak mudah marah.
Daftar Tulisan
Dampak yang dapat ditimbulkan oleh teknologi
Lalu bagaimana dengan seseorang yang telah terpapar virus teknologi? Lebih keren dengan ponsel pintar-nya contohnya? Bisakah itu memengaruhi mereka?
Di sini kita akan membicarakan imbas apa yang mampu
ditimbulkan oleh teknologi, khususnya ponsel pintar yang mencakup bidang media
sosial dan internet.
Emosi terganggu
Dengan teknologi, terutama media umum dan
internet, banyak anak-anak dan remaja di luar sana yang menggunakan lebih
sedikit dan memanfaatkan media dan teknologi sosial. Pada usia mereka yang
sedang mencar ilmu, mereka harus kehilangan itu, alasannya adalah mereka terlalu sibuk dengan
dunia mereka sendiri. Remaja atau bawah umur yang sering menggunakan teknologi
dan media sosial akan mempunyai emosi yang tidak stabil, alasannya adalah mereka mesti
menyaksikan dan membaca hal-hal yang dilarang terlintas dalam fikiran mereka
atau terlalu akil balig cukup akal, mereka meniru apa yang ada di media umum, dan mereka
yang memakai media sosial dan teknologi tidak bijaksana dan tanpa
pengawasan orangtua akan mempunyai emosi yang gampang marah. Mengapa demikian?
Karena mereka yang kecanduan senantiasa ingin selalu dekat dengan ponsel pintar dan
dunia maya akan murka atau tidak jika terusik atau dijauhkan dari hal-hal
ini. Bahwa pada karenanya mereka akan kehilangan waktu bermain dan berguru apa
yang semestinya mereka dapatkan dengan baik.
Anak-anak dan remaja yang telah terpengaruh oleh
teknologi dan media sosial akan senang dengan mereka sendiri, mereka akan lebih
suka bersosialisasi di dunia maya ketimbang bersosialisasi dengan teman-teman
mereka di dunia faktual. Hal itu mengakibatkan keahlian mereka dalam
bersosialisasi dan berinteraksi menjadi menurun drastis. Ini, kalau dijalankan
terus menerus tidak akan baik untuk perkembangan psikologis dan emosional anak.
Karena, dengan mereka jarang berkomunikasi dengan komunitas atau lingkungan,
akan menciptakan kemampuan mengatakan mereka menurun, dan akan membuat mereka
merasa terisolasi di dunia faktual atau lingkungan mereka.
Tingkat kesadaran bundar menyusut
Anak-anak atau sampaumur yang telah dipengaruhi oleh
pertumbuhan teknologi dan media sosial akan condong kurang mengamati
lingkungan, sehabis aku menyaksikan lingkungan kampus dan jalan-jalan atau publik
yang saya kunjungi, mereka bahkan terlalu konsentrasi pada kebahagiaan mereka dengan
ponsel pandai atau media umum mereka. Mereka tidak mampu berhenti melihat
layar ponsel cerdas mereka. Seringkali saya perhatikan, dikala banyak siswa
duduk bareng , berdampingan tidak berbicara satu sama lain, namun mereka
menikmati masing-masing dengan media sosial mereka. Ada juga, tipe orang yang
saat berjalan di mana saja, beliau selalu memegang smartphone-nya seakan-akan
akan ada orang yang menelepon kapan saja dan itu ialah kebutuhan yang sangat
diharapkan, namun itu tidak baik untuk kesehatan, juga bisa memanggil
kejahatan bagi orang-orang di sekelilingnya.
Karena itu, ketiga hal di atas adalah penerapan
emosi yang ada di penduduk . Bagaimana mereka dapat mengontrol dan
menempatkan diri di lingkungan mereka dan juga mampu mengendalikan emosi di
mana pun mereka berada, sebaiknya.
Tips Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional
Kaprikornus, bagaimana cara mengembangkan kecerdasan emosional di tengah pertumbuhan teknologi? Mari kita simak, tips berikut;
1. Mengurangi Emosi
Negatif;
Mengurangi emosi negatif sangat penting dalam
memajukan kecerdasan emosional. Mengapa demikian? Emosi negatif membuat
seseorang berpikir negatif juga, cobalah untuk selalu berpikir faktual dan
menyaksikan sesuatu dengan konkret untuk apa pun yang dapat berjalan dengan baik.
2. Mengurangi interaksi dengan telepon arif dan mencar ilmu membangun kekerabatan
Interaksi dengan ponsel pintar adalah acara yang
sangat lazim dikala ini, postingan ketika akil balig cukup akal terus-menerus menyaksikan layar kaca
ponsel pintar dan mengkonsumsi asupan media umum, maka itu akan sangat
mensugesti perubahan emosi yang tidak stabil di dalamnya. Smartphone
cenderung menjadi salah satu aspek yang dapat mengakibatkan kecerdasan emosional
menurun, ada banyak pos yang mengandung tingkat emosi yang berbeda yang
menjadikan mereka mempunyai emosi yang berganti dengan cepat. Kecanduan
ponsel pintar juga menimbulkan emosi seseorang berganti dengan cepat, contohnya
dikala mereka asik bermain smartphone, datang-datang ada gangguan yang condong
akan menawarkan respons negatif dan semacamnya. Karena itu, cobalah untuk
meminimalkan interaksi dengan smartphone, cobalah belajar membangun kekerabatan
dengan lingkungan Anda, sehingga emosi Anda menjadi lebih negatif.
3. Belajar mengenali emosi sendiri
Sudah saatnya bagi Anda untuk mengenali emosi Anda,
Anda bisa memikirkan bagaimana murka, senang, murung, senang, dll. Dan kapan menggunakannya.
Jika Anda sudah mengenali emosi Anda, maka Anda akan menyadari ketika Anda
mencicipi emosi itu dan menggunakannya dengan bijak. Misalnya, kapan Anda murka
dan bahagia.
4. Cobalah untuk tetap hening dan meminimalisir tertekan
Orang-orang yang mampu tetap damai dikala menghadapi
duduk perkara besar atau pada waktu yang merepotkan, maka ini akan sangat menolong dalam
merenggangkan duduk perkara sebab dengan bersikap damai, seseorang akan memancarkan
emosi faktual dalam mengambil keputusan, kemudian tetap berupaya bersikap
hening. penerapan kecerdasan emosional yang bisa mengendalikan diri.
5. Belajar memotivasi diri sendiri
Memotivasi diri sendiri akan sungguh menolong untuk
menumbuhkan semangat, keteguhan dan ketahanan mental seseorang. Ini dijalankan
semoga senantiasa berpikiran faktual. Motivasi yang kuat, akan menumbuhkan ketahanan
mental yang kuat juga.
6. Menggunakan teknologi untuk mengembangkan emosi kasatmata / berguru verbal diri
Teknologi yakni sesuatu yang Anda miliki dan mampu
Anda gunakan untuk minat Anda. Menggunakan teknologi untuk hal-hal konkret
adalah bentuk emosi aktual yang dapat kita atasi. Dengan teknologi seseorang
lebih gampang mengekspresikan diri mereka lewat teknologi, mirip smartphone,
dengan menciptakan panduan video interaktif dan sebagainya.
Nah, pembaca yang budiman ada kiat yang bisa aku sampaikan. Semoga berguna ……….
Comments
Post a Comment